Beberapa hari lagi Bangsa Indonesia Tercinta telah berumur 63 tahun. Jujur saja, kalau dipikir rasa kebangsaan dan nasionalisme sepertinya turun seiring dengan bertambah umur dan kepelikan menjalani hidup di ibukota Jakarta. Apalagi rasa nasioanlisme itu apabila diukur dengan simbol-simbol kebangsaan yang kita miliki misal bendera merah putih.
Imam Mustakim, 34 tahun, eksekutif muda disalah satu perusahaan jasa trading batu bara yang berkantor di daerah Cilandak, sudah 1 minggu lebih ini selalu merasa diingatkan kalau dia melihat orang berjualan bendera merah putih beserta tiang bambu dengan memakai gerobak di komplek perumahaannya yang asri dan mandiri.
“Diingatkan’ bahwa dia sejauh ini belum mempunyai bendera merah putih yang harus dikibarkan didepan rumahnya sesuai dengan anjuran dari pak RT beserta pengelola perumahan. Apalagi kalau yang berjualan adalah orang yang sudah tua dengan keringat yang bercucuran.
Ini hanya contoh kasus kecil yang yang bisa terjadi dimana saja. Belum lagi yang mempunyai bendera tapi sudah berumur dan tidak terawat. Bisa jadi buat mereka, apalah arti symbol symbol kebangsaan itu? Mungkin jawabannya adalah yang penting jiwa dalam hati. Tapi itu syah syah saja kok dinegara kita. Setiap rumah tidak mengibarkan bendera merah putih juga tidak apa apa. It’s just ceremonial doang ….
Kemabli lagi ke rasa nasionalisme, yang kita tidak dapatkan seperti saat kita beramai ramai dengan kegembiraan berjalan kaki menuju lapangan untuk menjalani upacara bendera di lapangan kecamatan. Sepatu haru shitam dan kaos kaki harus putih. Lebih- lebih kalau kita adalah aggota dari Paskibraka walau dilevel tingkat kecamatan, perlu extra waktu pagi dan sore untuk detraining oleh pihak yang terkait (koramil, ?).
Rasa itu juga muncul kalau ada atlet kita seperti sekarang yang lagi bertanding di Olympic Beijing 2008. Air mata terharu dan bangga akan keluar kalau kita melihat para putra dan putrid bangsa mendapatkan medali emas di negeri jauh dengan air keringat yang bercucuran.
Akankah rasa itu bisa muncul setiap saat tanpa harus ada pemicu seperti konflik dengan Malaysia, tanpa balik lagi mnegenang masa kecil, ataupun tanpa even olah raga ?
“Biar saja ku tak sehebat matahari
Tapi ku slalu mencoba tuk menghangatkanmu
Biar saja ku tak setegar batu karang
Tapi ku slalu mencoba tuk melindungimu
Biar saja ku tak seharum bunga mawar
Tapi slalu kucoba tuk mengharumkanmu
Biar saja ku tak seelok langit sore
Tapi slalu kucoba tuk mengindahkanmu
Kupertahankan kau demi kehormatan bangsa
Kupertahankan kau demi tumpah darah
Semua pahlawan-pahlawanku
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi di Indonesiaku ini
Merah putih teruslah kau berkibar
Ku kan selalu menjagamu ‘
Oleh : COKLAT
Filed under: Uncategorized

































